Arsip untuk Agustus, 2015

Kalau ngomongin destinasi traveling Pulau Jawa, Jawa Timur gak pernah berhenti jadi buah bibir. Kali ini, CakalangTrans akan mengulas eksotisme yang dimiliki salah satu daerah di Jawa Timur, yaitu Probolinggo. Meski Probolinggo terbagi menjadi kabupaten dan kota, gak ada salahnya kalau kita melihat pariwisatanya sebagai satu kesatuan.

Sebagai daerah yang dikelilingi oleh Gunung Semeru, Gunung Argopuro, dan Gunung Bromo, dan Selat Madura di sisi utara – potensi pariwisata yang dimiliki oleh Kota Angin ini tentu gak bisa dipandang sebelah mata. Hanya saja, masih banyak yang belum tahu keistimewaan tersembunyi yang dimiliki tempat ini.

Sekali menginjakkan kaki kemari, kamu mungkin akan menganggap Probolinggo serupa surga. Nggak percaya? Yuk, kita telisik eksotisme Probolinggo satu per satu!

 

 

1. Kita mulai dengan wisata pantainya. Menghadap Selat Madura, Probolinggo punya Pantai Bentar dengan panoramanya nan mempesona

Pantai Bentar Indah

Pantai Bentar Indah atau yang lebih dikenal dengan pantai Bentar adalah pantai andalan kabupaten Probolinggo yang tak boleh kamu lewatkan. Letak pantai yang berada di (lebih…)

Siapa yang gak mengenal Gunung Semeru? Gunung yang dijuluki puncak abadi para dewa ini adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa yang tentunya menantang para pendaki untuk menggapai puncaknya. Gunung ini pun kian terkenal setelah film 5cm yang mengambil tema pendakian ke Semeru meledak di bioskop.

Bagi pendaki sejati, Gunung Semeru memang menjadi salah satu gunung yang wajib dijamahi setidaknya sekali seumur hidup. Siapa sih yang gak ingin menyambangi kecantikan fajar di Ranu Kumbolo dengan mata kepala sendiri? Tapi, cuma sekali mendaki Semeru takkan cukup buatmu. Kamu akan rindu untuk mendatanginya lagi dan lagi.

Nah, agar kamu bisa tuntas menjamahi setiap eksotisme yang dimiliki Gunung Semeru, CakalangTrans sudah menyiapkan untukmu kiat-kiat lengkapnya.

 

 

Agar pendakianmu tuntas, pilih waktu yang tepat untuk mendaki Semeru, yaitu pada musim kemarau antara Mei–September

Tanjakan Cinta Gunung Semeru

Sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, puncak gunung Semeru memang (lebih…)

Puncak-puncak gunung memang menarik untuk dijelajahi. Selain panoramanya yang memukau, mendaki gunung juga menjadi semacam perjalanan spiritual bagi banyak pendaki. Meskipun sejumlah gunung punya medan yang termasuk ramah, tetap aja keselamatan dan kewaspadaan harus tetap dikedepankan. Pulang adalah misi utama yang kita emban.

Selain menjaga kondisi fisik, cara mengepak keril untuk mendaki gunung juga mesti diperhatikan—terutama buat pendaki pemula. Salah strategi, kerilmu bisa terasa tak nyaman di bahu dan memberatkan langkamu. Nah, biar pendakianmu lancar dan langkahmu terasa ringan, nih perhatikan dulu tips mengepak keril yang sudah CakalangTrans himpun di sini.

 

 

1. Ke mana tujuan dan berapa lama waktu pendakian adalah patokan awal yang harus kamu perhatikan

asdad

Bawaan untuk mendaki Gunung Prau yang cuma semalam dengan medan tanah tentu gak sama dengan jika kamu muncak ke Semeru yang bisa berhari-hari dengan (lebih…)

Banyak orang bertanya, “Apa sih enaknya mendaki gunung? “Kan capek, harus jalan jauh….”

Kegiatan yang satu ini memang penuh seni dan hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah pernah mendaki. Bayangkan, kamu mesti bersusah payah membawa keril yang berat serta berjalan jauh melewati medan yang seringkali membahayakan. Tak jarang pula kita dengar kisah pendaki yang tewas di jalur pendakian.

Meski berat dan melelahkan, anehnya para pendaki tak pernah kehilangan semangat untuk terus berjalan. Gunung yang tinggi tetap dihadapi, jalan yang berliku terus saja dicumbui. Sekali pernah naik gunung, kamu tak akan pernah bisa berhenti. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata sekalinya kita berhasil menggapai puncaknya.

Meski tak banyak bisa dimengerti, inilah alasan yang membuat kami, para pendaki selalu mengangkat keril demi mendaki kembali…

 

 

1. Mendaki gunung adalah perjalanan hati; perjalanan untuk menaklukkan dirimu sendiri

Mendaki gunung

Jika banyak pendaki yang berkata bahwa sebuah pendakian adalah perjalanan menaklukkan diri sendiri, sepertinya ungkapan itu memang benar adanya. (lebih…)